Kerinduan setelah lama tidak mempublish tulisan di blog kesayangan ini benar2 tak tertakankan. Sebagai obat penawar rindu itu., postingan ini hanya mengutip paragraf awal dan kedua dari akhir sebuah novel yang saya yakin tidak akan diterbitkan.
Semoga berkenan….
SEMASA kecil, aku selalu suka bermain dengan apa saja yang menarik bagiku. Jikalau tak sampai tanganku menggapainya, cukuplah mataku yang akan bermain. Tembok kamar, tempat tidur, buku-buku ayah dan majalah-majalah ibu hampir setiap hari kuajak bermain. Anak-anak kecil sebayaku, hampir selalu menjadi bahan permainanku – walau itu lebih banyak terjadi dalam dunia imajiner yang kuciptakan sendiri – dan mataku akan berbinar kegirangan saat itu. Sering kudengar kata nakal terlontar untukku, namun tak pernah aku menghiraukannya. Aku selalu menyadari kata sayang, restu dan maaf jauh lebih sering hadir untukku.
***

Setelah hilang taksi yang membawa Lita pergi dari jangkauan tatap mataku, akupun membalikkan badan, melangkahkan kaki tidak menuju makam Aya, tidak menuju rumahku, pun tidak tahu hendak kemana. Hanya saja hatiku lirih mengucap pesan untuk Lita…..
“Aku pergi, dan aku yakin kamu akan menyusulku. Entah kapan, namun aku akan tetap menunggu. Aku yakin Tuhan sangat mencintaimu pun juga aku. Karena tak ada selain aku yang pantas mencintaimu kecuali Tuhan”
***





Yang memberi caci maki sekaligus saran