Lelaki itu beranjak pergi meninggalkan kota patah hati. Hari masih siang ketika kakinya menapak ke dalam kereta besi yang penuh sesak mamalia berakal pun juga bernafsu. Pada kereta besi yang terengah-engah dalam rangkaknya, dia menempatkan diri di samping pintu salah satu rangkaian kereta. Tak ada komunal bahkan seorangpun yang memberi lambaian tangan perpisahan untuknya, hanya saja bagaimanapun sesak meraja siang ini, semesta masih memberi ruang untuknya.
Lelaki itu membawa mata, hidung, bibir, telinga, tangan, kaki juga bagian tubuh lainnya dengan utuh, tapi hanya hatinya yang tak pernah utuhlah yang dapat terlihat jelas dari kedua bola mataku. Aku sudah berada dalam kereta ini berjam-jam lebih dulu dari lelaki itu, namun tak satupun yang dapat menarik perhatian bola mataku seperti ini selain lelaki itu.
Baru saja dia mengeluarkan sebungkus rokok Gudang Garam. Mengambil sebatang dari dalamnya lalu menyulutnya dengan korek gas biru. Tarikan nafasnya yang dalam juga hembusan asap dari mulut dan hidung serta tatapan kosong dari matanya selalu saja berulang.
Kejadian monoton itu seharusnya menjadi hal yang membosankan bagiku, namun entah apa yang membuatku begitu tertarik pada lelaki itu. Apa ketertarikan harus memiliki alasan?
Ini sudah empat jam lamanya, lelaki itu masih saja melakukan kegiatan monotonnya, aku hitung sudah empat bungkus rokok yang dihabiskannya dan saat ini lelaki itu mengeluarkan bungkus rokok kelimanya. Seperti ketertarikanku yang tanpa alasan, akupun tak habis pikir, apa yang menghalangiku untuk mendekatinya, sekedar menyapa atapun berkenalan dengan sedikit basa basi.
Ini sudah empat jam lebih lamanya dan aku merasa ruang disekitar lelaki itu semakin luas. Entah itu hanya perasaanku setelah melihat bagian lain dari kereta yang semakin penuh sesak atau memang beberapa benda juga makhluk beranjak pergi meninggalkan ruang kecil yang cukup luas tempat lelaki itu berada.
Angin menyapa tubuhku yang cukup berkeringat, lelaki itu membuka pintu kereta di belakangnya lalu mengubah arah duduknya 180°. Sedikit sejuk dan aku menikmati hembusan angin dari pintu yang terbuka itu. Sempat kulihat ia memasukkan lipatan kertas yang diambil dari celana jeans kumalnya ke dalam plastik pembungkus rokok kelimanya. Kelakuan barunya ini menarik perhatianku dan entah dorongan apa yang membuatku sangat ingin menghampirinya saat itu.
Kurang dua langkah lagi aku dapat mencapai tempat ia duduk, aku mematung. Tak ada mata lain selain kedua mataku yang melihatnya. Tak ada teriak histeris dari mulutku. Tak ada gerakan lain selain lututku yang tiba-tiba lunglai dan terduduk dengan bertumpu pada yang lunglai itu. Lelaki itu membuang dirinya keluar pintu seperti tanpa beban saat kereta besi masih terengah-engah dalam rangkaknya pada jembatan panjang di atas sebuah sungai yang tak berair.
***





Yang memberi caci maki sekaligus saran