Pengangguran Terdidik

Saya jadi ingin menulis tentang hal ini setelah membaca tulisan ini. Tulisan itu ditutup dengan kalimat “Wahai kawanku tarik napas dalam-dalam, sebelum berenang jauh kedasar samudra!”. Tidak begitu panjang memang tulisan itu, tapi benar-benar menggambarkan realitas yang terjadi.

Suatu saat saya mengikuti acara di UMS. Saat itu seorang pembicara mengatakan bahwa di tahun 2007 Indonesia berhasil memproduksi sekitar 700.000 sarjana dari seluruh perguruan tinggi yang ada, sedangkan lapangan kerja yang dibuka tiap tahunnya hanya sekitar 125-200 ribu. Hal ini tentunya sangat mendukung terciptanya banyak pengangguran terdidik di Indonesia dan kalimat yang saya kutip diatas sangat erat hubungannya dengan hal ini. Jika memang seorang sarjana tidak menarik nafas dalam-dalam saat masih menjadi mahasiswa tentunya persaingan di dasar lautan akan menjadi sangat berat baginya.

Masih dari pembicara yang sama di acara yang sama juga, saya mendapatkan info bahwa menurut penelitian, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka semakin rendah tingkat kemandirian serta kreatifitasnya. Hal ini terkait dengan beban martabat, rasa malu dan beban-beban psikologis lainnya. Bagi beberapa orang yang masih memiliki kelebihan uang hal ini diakali dengan melanjutkan studi kejenjang yang lebih tinggi.

Beberapa orang lainnya, menganggap bahwa satu-satunya cara agar tidak terjebak dalam kelompok pengangguran terdidik adalah dengan memiliki IPK yang tinggi. Memang benar, tapi menurut saya IPK bukanlah segala-galanya. Bisa saja lulus dengan cum laude kedepannya malah bisa menjadi kemelut karena kreatifitas menurun dan tidak diiringi dengan rasa nasionalisme dan pengendalian emosional yang baik.

Perubahan memang suatu keniscayaan dan kita semua pasti mengalaminya. Lulus dari perguruan tinggi juga merupakan proses perubahan dan menuntut kita untuk menyikapinya dengan bijak agar kita terus berproses dalam perubahan menuju kearah yang lebih baik. Sebagai penutup, saya mengutip kata-kata seorang saudara setidaknya idealisme dan semangat mahasiswa insyaAllah tidak.. kalo berubah ke arah kebaikan alhamdulillah” amin.

Iklan

14 Responses to “Pengangguran Terdidik”


  1. 1 fauzansigma 15 Juni, 2008 pukul 4:45 am

    pertamax sik…. keburu kebanjiran komen πŸ˜€

  2. 2 fauzansigma 15 Juni, 2008 pukul 5:06 am

    tidak salah lagi kawan.. smoga bermanfaat!
    dan yg jelas buat yg pada baca, buka mata! riil permasalahan paling parah bangsa ini adalah moralitas human resource nya.. bagaimanapun sistem yg mendukung,dismua negara bahkan.. kalau tidak diimbangi SDM yg bertannggung jawab menjadi sebuah keniscayaan kehancuran itu tinggal menunggu hari saja

  3. 3 Sawali Tuhusetya 15 Juni, 2008 pukul 8:06 am

    pengagguran terdidik? wah, saya kadang2 kok agak gimana gitu, hehehehe πŸ˜† setiap kali mendengar istilah ini, mas dafhy. kenapa? ini sebuah pencitraan yang salah karena bisa melunturkan semangat anak2 negeri ini dalam memburu ilmu, hehehehe πŸ˜† buat apa sekolah tinggi2 kalau akhirnya jadi pengangguran terdidik? nah, loh! tapi mudah2an pencitraan semacam itu hanya bersifat temporer!

  4. 4 Sawali Tuhusetya 15 Juni, 2008 pukul 8:09 am

    wew… kok salah sebut sih, kekekekeke πŸ˜† mas danoe, kok keliru dengan mas dafhy, haks. dasar dah tua dan pikun!

  5. 5 aRuL 15 Juni, 2008 pukul 11:03 am

    makanya perlu 2 hal, softskilll dan hardskill yang porporsional.
    artinya proporsional tingkat masing2 individu berbeda2 kebutuhan softskill dan hardskill tinggal bagaimana kedua tetap ada dalam diri lulusan universitas.
    kadang saya berfikir, kampus membutuhkan lulusan berkualitas tapi sayang kampus ndak mensupport mahasiswa dalam kegiatan softskill… ironi tersendiri…

  6. 6 uNieQ 15 Juni, 2008 pukul 2:20 pm

    pinter na arul koment hihihihihihihi

    mule koment : IPK tinggi ga terjamin bisa lolos dari status pengangguran, coz, begitu udah lepas dari lembaga pendidikan, semua berstatus sama, yg penting adalah, gmn sang lulusan baru lincah melihat peluang, ga putus asa mencoba, intinya siyh TEwTep semangat!!! dan ga memproteksi diri untuk kembali belajar ilmu baru..

    *halah opo to yo..tumben ngomong rodo serius* hihihihihi

    *ini adalah sisi yg berbeda dari mba manis mu ini* hihihihihi

  7. 7 natazya 16 Juni, 2008 pukul 8:40 pm

    hooo jadi rasa nasionalis juga musti?
    hmmmm
    saya nanti jadi apa yah
    skripsi blom beres juga *udah mao bunuh diri ini*
    dan IPK pas pas an saja…
    ah…

  8. 8 ulan 18 Juni, 2008 pukul 9:27 am

    biasa nya nyesel nya kalo udah lulus, gimana mau mbenerin nya ya..

  9. 9 juliach 18 Juni, 2008 pukul 11:26 pm

    Seharusnya sarjana itu bisa menciptakan lapangan kerja. Apa lagi di Indonesia banyak deh pekerjaan itu. Asal tidak gensian saja…sampah/tahi pun bisa menghasilkan uang…

  10. 10 fauzansigma 19 Juni, 2008 pukul 10:42 pm

    komen disini keren..keren yak..

  11. 11 fauzansigma 20 Juni, 2008 pukul 12:20 am

    TOLAK BKM DAN..!

  12. 12 egganimation 25 Juni, 2008 pukul 3:11 pm

    HIDUP MAHASISWA

  13. 13 inidanoe 25 Juni, 2008 pukul 4:03 pm

    @ fauzansigma :
    mkaseh banget ya pak sigma., mo capek2 and repot sering koment di sini.
    TOLAK BKM. Setuju.

    @ Sawali Tuhusetya :
    semoga saja temporer ya pak πŸ˜€
    gk papa kok., wajar salah orang., lha sama2 D depannya πŸ˜›

    @ aRuL :
    ironi itu masih wajar pak arul., tapi klo lembaga pendidikan seperti kampus sudah tidak berpihak pada rakyat dan menjadi motor komersialisasi pendidikan itu baru ironi yang luar biasa 😦

    @ uNieQ :
    mbakku yang maniez ini emang luar biasa. salut buat mbak. πŸ™‚

    @ natazya :
    jadi blogger aja kaya’na menyenangkan mbak πŸ˜€

    @ ulan :
    nyesel itu emang selalu belakangan., gk pernah ada didepan πŸ™‚
    klo mo benerin ya just call me πŸ˜€

    @ juliach :
    emang di indonesia semua bisa menghsilkan uang., nengadahin tangan dipinggir jalan aja bisa jadi uang πŸ˜€
    Tapi klo semua yang kita inginkan dan butuhkan sudah kita dapatkan., untuk apa lagi uang yah…???

    @ egganimation :
    HIDUP BLOGGER..!!!

  14. 14 Maulz 16 Oktober, 2008 pukul 9:45 pm

    dApat mEnghasilKan 700.000 saRjana namUn laPangan pekeRjaan hanyA 125.000-200.000 saja….waw cUkup besAr yaa selIsihnya…

    kLo gitu jD peNgusaha Aja deh…jD kiTa bs meMbuka lApangan pekerjaan yaa iKut menGurangi anGka peNgangguRan lah…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Selamat Datang

Terima kasih atas kunjungan saudara/i ke ruang mengeja ini. Blog yang berisi buah pikiran seorang DANOE ini merupakan salah satu upaya agar dia tidak terlupakan begitu saja tertelan waktu yang tidak kenal kompromi. Ruang mengeja yang hadir pada 15 Mei 2008 ini, merupakan bentuk pelarian upaya lebih serius seorang DANOE untuk menulis setelah blog yang INI serta yang ITU dianggapnya kurang serius :D . Selamat menjelajahi RUANG MENGEJA ini dan silahkan mencaci maki DANOE sepuasnya disini. HIDUP BLOGGER...!!!

 mari mengeja...

Proudly Present... Komunitas Bloger Yogyakarta - CAHANDONG.ORG Komunitas Kretek

Tugas Sekolah

just send me IM
idYM : inidanoe
Juni 2008
S S R K J S M
« Mei   Agu »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Danu Saputra's Facebook profile

Powered by FeedBurner

Add to Technorati Favorites

%d blogger menyukai ini: